Masuk/Daftar

Share :
Jadikan Favorit
Jadikan Favorit

Fikih Pandemi Dalam Islam

-20%
OFF
0 ulasan pelanggan
2 Terjual

Rp44.000

-20% OFF
Pengiriman
Gratis Ongkir DKI Jakarta & Depok
instock

Masih ada.. Beli sebelum habis.

Stok 1414

Beli Sekarang!

100% Garansi

Dapatkan barang pesananmu atau uang kembali.
SUPER DEAL!
10% OFF
Pengguna Baru!
claim
Subsidi Ongkir 5000
ZAHRAONGKIR
Min.Blnja 100000
claim
Cash Back 2.5%
ZAHRACASHBACK25
Min.Blnja 50000
claim
Subsidi Ongkir 8000
ZAHRAONGKIR2
Min.Blnja 150000
claim
Cash Back 5%
ZAHRACASHBACK50
Min.Blnja 200000
claim
SPESIFIKASI PRODUK

Additional information

Berat193 gram
Dimensi21 × 1,4 × 14 cm
ISBN

9786237327479

Penulis

Penerbit

Halaman

192

Tahun

2020

Cover

Soft Cover

Kertas

Bookpaper

DESKRIPSI SINGKAT

Apa keunggulan buku ini?

  • Buku klasik yang merekam fenomena wabah taun
  • Dilengkapi FAQ tentang covid 19
  • Meringkas buku wabah dan taun karya Ibnu Hajar al-Asqalani sehingga memudahkan untuk dipahami maksudnya, serta menambahkan beberapa poin penting.
  • Dilengkapi Teks Arab Kitab Tuhfah ar-Raghibin fi Bayani ‘Amri ath-Thawa’in

 

Apa saja isi buku ini?

  • Protokol kesehatan dalam menghadapi wabah taun versi Islam
  • Kisah Umar ra. membatalkan kunjungan ke negeri Syam
  • Bahasan kapan waktu terjadinya taun
  • Sifat dan sebab terjadinya taun serta hubungannya dengan wabah
  • Adab-adab orang yang terkena taun
  • Biografi penulis (Zakaria al-Anshari)
SINOPSIS BUKU

FIKIH PANDEMI DALAM ISLAM – Sebenarnya, seperti apa protokol kesehatan dalam menghadapi suatu wabah atau pandemi menurut ajaran Islam?

Adalah keliru pandangan yang menyatakan bahwa Islam tidak bisa berbuat banyak dalam menghadapi sebuah pandemi. Buku ini hadir sebagai bukti sekaligus referensi bahwa sejak 1400 tahun lalu, Islam sudah memiliki ajaran sekaligus praktik baik dalam menghadapi wabah, baik itu bersifat regional maupun global.

Dan bukan sekadar sebagai referensi, buku karya Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari (1420-152) ini juga bisa menjadi legitimasi ilmiah-religius yang terpercaya dalam konteks menghadapi pandemi. Protokol kesehatan selama pandemi Covid-19 misalnya, yaitu dengan tidak keluar rumah atau bepergian ke daerah wabah, tidak berkerumun dan menjaga jarak, serta seruan menjaga imunitas tubuh, dll., ternyata sudah dipraktikkan sejak zaman dulu, dan itu didasarkan pada dalil-dalil al-Qur’an dan Hadis yang otoritatif.

Ajaran Islam dan sains ternyata masih satu tarikan napas. Bukan sesuatu yang harus dipertentangkan, tapi justru saling mendukung. Buku ini layak dibaca oleh siapapun yang ingin memahami pandemi dalam pandangan Islam, terutama bagi para pengambil kebijakan, aparatur negara, para dokter dan tenaga medis, epidemolog, agawaman hingga para pelajar, santri dan akademisi. Dan agar lebih komprehensif, buku ini juga dilengkapi dengan teks asli buku dalam Bahasa Arab dan Q&A tentang Covid-19. Selamat membaca.

 

Siapa penulis buku ini?

Zakaria al-Anshari dilahirkan di Mesir pada tahun 823 H/1420 M dan wafat pada tahun 526 H/1131 M di Naisabur, Iran. Masa kecil beliau penuh dengan keprihatinan, karena ayahnya meninggal dunia ketika ia masih balita sehingga Zakaria kecil hidup hanya bersama ibunya.

Pada tahun 841 H/1437 M, beliau pergi ke kota Kairo dan belajar di al-Azhar Kairo. Bakat menghafalnya kemudian berlanjut ketika ia menimba ilmu di sini. Dalam rentang waktu yang relatif pendek, Zakaria muda telah menghafal al-Quran dan beberapa kitab, seperti Alfiyah ibnu Malik, al-Minhaj, asy-Syathibiyah, dan lainnya.

Di tengah pengembaraan ilmu yang pertama ini, Zakaria muda sempat pulang ke kampung halamannya untuk bekerja. Namun, beberapa waktu kemudian, ia kembali ke Kairo melanjutkan penggalian ilmu.

Pada masa pengembaraan yang kedua ini, Zakaria al-Anshari mempelajari hampir semua kitab dalam berbagai macam cabang keilmuan, termasuk matematika, seni menulis indah, dan ilmu retorika. Tidak heran jika kemudian guru-gurunya memberikan pujian dan ijazah keilmuan padanya. Lebih dari 150 ijazah telah diberikan kepadanya, termasuk ijazah dari Ibnu Hajar al-Asqalani, yang menuliskan kata-kata dalam ijazahnya, “Aku izinkan bagi Zakaria untuk membaca al-Qur’an dengan jalur periwayatan yang ia tempuh, dan mengajarkan fikih yang telah dituliskan dan diserahkan al-Imam asy-Syafi’i. Kepada Allah, kami, aku, dan Za­karia, memohon pertolongan untuk ke­lak dapat bersua dengan-Nya.”

Pada tahun 850 H/1446 M, beliau meninggalkan Mesir menuju Hijaz untuk menunaikan Ibadah Haji. Di sana, beliau bertemu dengan beberapa Ulama dan belajar kepada mereka, khususnya ilmu hadis, di mana beliau mendapatkan ijazah dengan sanad yang ‘aly dan langka. Di antara ulama yang memberikan ijazah kepada beliau adalah as-Syarof Abu al-Fath al-Maroghi. Beliau juga bertemu dengan Ibnu Fahd dan dua hakim (Qadhi), Abu al-Yaman an-Nuwairy dan Abu as-Sa’adat Ibnu Zahirah.‎

Quotes:

  • Sebagian ulama menafsirkan taun sebagai penyakit yang menghambat peredaran darah menuju berbagai anggota tubuh.
  • Barang siapa meninggal di tengah (wabah) taun, dia adalah syahid.” (HR. Muslim)
  • Allah menetapkan pahala setara dengan orang syahid bagi yang bertahan di daerah taun sembari bersabar dan berharap pahala dari-Nya.
ULASAN PELANGGAN

Ulasan

Belum ada ulasan.

Hanya pelanggan yang sudah login dan telah membeli produk ini yang dapat memberikan ulasan.

Fikih Pandemi Dalam Islam

Rp44.000

instock

instock

Stok 1414

Masuk

--- Atau---

Daftar dengan E-mail